Online and Offline Quality Control

June 29, 2008 at 6:38 pm 5 comments

Sebagai pembahasan dari postingan sebelumnya, berikut akan dijelaskan mengenai on-line quality control dan off-line quality control serta beberapa metode yang dapat digunakan pada masing-masing jenis pengendalian kualitas. Rekayasa kualitas secara off-line dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

  • Tahap I → Perancangan Konsep : Tahap ini berhubungan dengan pemunculan ide dalam kegiatan perancangan dan pengembangan produk, dimana ide tersebut muncul dari keinginan konsumen (voice of costumer). Beberapa metode yang digunakan pada tahap ini antara lain:
    1. Quality Function Deployment (QFD) : pada tahap ini, proses yang terjadi adalah menerjemahkan keinginan dan kebutuhan konsumen ke dalam respon  teknis, sehingga keinginan konsumen tersebut dapat diintegrasikan dalam proses perancangan produk selanjutnya. Tujuan dari penggunan metode ini adalah dihasilkannya produk yang mengandung persyaratan teknis dan karakteristik kualitas sebagaimana diharapkan oleh konsumen.
    2. Pugh concept selection process : merupakan suatu metode iteratif (berulang) yang menguji kelengkapan dan pemahaman akan kebutuhan-kebutuhan dalam perancangan produk — dengan informasi yang didapat dari suatu sistem pakar (expert system) — sehingga dapat dengan cepat diidentifikasi konsep perancangan yang paling kuat (superior).
    3. Dynamic Signal-to-Noise Optimization : merupakan teknik untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi rekayasa, sehingga menghasilkan teknologi  yang robust, dan tunable.
    4. Theory of Inventive Problem Solving (TRIZ) : suatu koleksi tool yang didapat dari analisa literatur yang berguna untuk membangitkan pemecahan masalah teknis yang inovatif.
    5. Design of Experiment (DOE) : menggunakan eksperimen parsial penuh dan eksperimen faktorial parsial untuk mengetahui efek dari beberapa parameter yang berjalan bersama-sama.
    6. Competitive Technology Assesment : dengan melakukan benchmarking terhadap sifat robustness dari teknologi pengembangan internal dan eksternal.
  • Tahap II → Perancangan Parameter : Tahap ini berfungsi untuk mengoptimalisasi level dari faktor pengendali terhadap efek yang ditimbulkan oleh faktor lain sehingga produk yang ditimbulkan dapat tangguh terhadap gangguan (noise). Karena itu perancangan parameter sering disebut sebagai Robust Design. Model atau metode yang digunakan dalam tahap ini antara lain:
    1. Engineering Analysis : menggunakan pelatihan, pengalaman, dan percobaan untuk menemukan variabilitas dan respon yang efektif.
    2. Crossed Array Experiment : sebuah perancangan ekperimen khusus dengan cara memanfaatkan interaksi antara faktor kendali dan  noise sehingga membuat sistem lebih tangguh.
    3. Dynamic and Static Signal-to-Noise Optimization : mengoptimalkan suatu perancangan parameter untuk mengurangi variabilitas dengan menggunakan perhitungan rasio signal-to-noise.
    4. The System P-Diagram : Suatu model robust untuk menggambarkan dan menggolongkan berbagai parameter yang mempengaruhi output sistem.
  • Tahap III → Perancangan Toleransi : Merupakan tahap terakhir dimana dibuat matrik orthogonal array, loss function, dan ANOVA untuk menyeimbangkan biaya dan kualitas dari suatu produk. Model atau metode yang digunakan pada tahap ini antara lain:
    1. Quality Loss Function : merupakan persamaan yang menghubungkan variasi dari performansi biaya produk dengan level deviasi dari target.
    2. Analysis of Variance (ANOVA) : suatu teknis statistik yang secara kuantitatif menentukan kontribusi variasi total, yang dibentuk dari setiap noise dan faktor kendali.
    3. Design of Experiments: Eksperimen faktorial penuh dan faktorial parsial untuk dapat mengetahui efek dari beberapa parameter secara serentak.

Selain pengendalian kualitas secara offline, dalam proses produksi juga dimanfaatkan pengendalian kualitas secara online. Beberapa metode pengendalian kualitas secara online antara lain:

  • Statistical Process Control : merupakan seperangkat tool yang dapat digunakan untuk melakukan pengamatan, pengendalian, dan pengujian pada tiap tahap proses produksi agar tidak terjadi variasi/penyimpangan yang cukup besar.
  • Static Signal-to-Noise Ratio : dapat mereduksi terjadinya variasi dengan menerapkan perancangan robust untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam proses produksi.
  • Compensation : merupakan seperangkat rencana pengendalian untuk menjaga agar proses yang terjadi sesuai dengan target.
  • Loss function based process control : pengendalian proses yang didasarkan pada dihilangkannya loss function Taguchi, sehingga dapat mengurangi seluruh biaya produksi, termasuk biaya produksi per unit, biaya inspeksi, dan biaya set-up yang diperlukan dalam pengendalian kualitas, serta dapat mengurangi quality loss yang diakibatkan oleh sisa variasi pada output.

Dengan adanya pengendalian kualitas secara online dan offline, diharapkan produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan dan harapan konsumen serta memenuhi spesifikasi kualitas yang ditetapkan oleh perusahaan.

Entry filed under: Alat Bantu Rekayasa Kualitas. Tags: , , .

Rekayasa Kualitas Quality Function Deployment (QFD)

5 Comments Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


June 2008
M T W T F S S
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Jumlah visitor:

  • 340,400 orang

%d bloggers like this: